Manusia dan Optimisme


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
                Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS Ali ‘Imran [3]: 139).
Dalam ayat tersebut telah dijelaskan bahwa kita tidak boleh bersedih dan bersikap lemah karna sesungguhnya kita sebagai orang yang beriman adalah orang yang tinggi derajatnya. Secara tersirat dalam ayat tersebut telah menyuruh kita sebagai seorang muslim yang beriman untuk bersikap dan bersifat optimis.
Dalam sebuah riwayat juga telah disebutkan bahwa: Dari Abu Hurairah, ia berkata, ''Telah bersabda Rasulullah SAW: Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada Mukmin yang lemah, tetapi di tiap-tiap (seorang Mukmin) itu ada kebaikan, beringinlah (optimistis) kepada apa-apa yang memberi manfaat.'' (HR Bukhari).
Dari kedua acuhan tersebut telah jelas bahwa optimistis merupakan sikap yang harus dimiliki oleh setiap manusia, khususnya seorang Muslim. Karena dengan optimistis, langkah kita akan tegar menghadapi setiap cobaan dan menatap masa depan penuh dengan keyakinan. Karena garis kehidupan setiap manusia sudah ditentukan-Nya. Dan kita sebagai seorang muslim akan selalu berusaha semaksimal mungkin mencapai cita-cita dengan penuh keikhlasan karena Allah.


B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang muncul dari makalah ini adalah:
a.                   Apakah pengertian dari optimisme?
b.                  Apakah pengaruh sikap optimisme bagi kehidupan manusia?
c.                   Kepada siapa sajakah kita harus bersikap optimis?
d.                  Bagaimana cara kita menumbuhkan sifat optimis?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    PengertianIslam dan  Optimisme
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa arti optimis: orang yg selalu berpengharapan (berpandangan) baik dalam menghadapi segala hal.
Optimisme memiliki dua pengertian. Pertama, optimisme adalah doktrin hidup yang mengajarkan kita untuk meyakini adanya kehidupan yang lebih bagus untuk  kita. Kedua, optimisme berarti kecenderungan batin untuk merencanakan aksi, peristiwa atau hasil yang lebih bagus. Atau optimis juga berarti kita meyakini adanya kehidupan yang lebih bagus dan keyakinan itu kita gunakan untuk menjalankan aksi yang lebih bagus guna meraih hasil yang lebih bagus.
Dapat juga dipahami sebagai paham (keyakinan) atas segala sesuatu dari segi yang baik dan menyenangkan atau diartikan suatu sikap selalu mempunyai harapan baik dalam segala hal.
Optimistis merupakan keyakinan diri dan salah satu sifat baik yang dianjurkan dalam Islam. Dengan sikap optimistis, seseorang akan bersemangat dalam menjalani kehidupan, baik demi kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat kelak.

B.     Pengaruh Sifat Optimisme
Pengaruh dari sifat optimisme bagi kehidupan manusia antara lain adalah
Pertama, optimisme dapat menumbuhkan cinta akan kebaikan di dalam diri manusia dan memunculkan perkembangan baru atau trobosan-trobosan baru dalam pandangannya tentang kehidupan.
Kedua, optimisme mampu mengurangi sejumlah permaslahan dalam kehidupan manusia. Karena orang tersebut akan mempunyai inisiatif-inisiatif dalam sosusi masalah yang dihadapinya. Wajah-wajah orang yang meniliki sifat optimis akan memancarkan kebahagian dan kepuasan dalam segala situasi dan kondisi.
Ketiga, orang yang menjadikan sifat optimis sebagaibagian dari kehidupannya, maka akan tumbuh kepercayaan di antara anggota masyarakat. Dan kepercayaan tersebut yang akan memulihkan dan memajukan umat dan bangsa yang sudah krisis akan kepercayaan dan moral.
Optimisme sangat diperlukan dalam kehidupan kita sehari-hari guna mancapai sebuah kesuksesan dan keberhasilan dalam hidup di dunia dan di akhirat. Dengan adanya sikap optimistis dalam diri setiap Muslim, kinerja untuk beramal akan meningkat dan persoalan yang dihadapi dapat diselesaikan dengan baik. Doa, ikhtiar, dan tawakal harus senantiasa mengiringi, kerena hanya dengan kekuasaan-Nya apa yang kita harapkan dapat terwujud.

C.    Bersikap Optimis dan Positif
Kita harus mampu menerapkan sikap optimis dalam diri kita pada kehidupan sehari-hari.Setelah kita mampu bersikap optimis, lalu pola pikir kita juga harus dibiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif tidak hanya kepada Allah SWT tetapi juga kepada diri sendiri, orang lain, dan waktu.
1.      Berpikir Positif Kepada Sang Pencipta.
Setiap kejadian, di dunia ini telah Allah atur dengan secermat-cermatnya dan semuaperistiwa dan fenomena kehidupan ini pasti ada sebab musababnya. Oleh sebab itu, semua kembali kepada kita.Bagaimana kita menyikapi setiap kejadian itu sebagai seorang muslim melalui akal dan pikiran yang dilandasi dengan ilmu-ilmu Allah. Kemudian kita mengambil pelajaran dari setiap kejadian tersebut dan selanjutnya mengamalkan yang baiknya dalam perilaku sehari-hari.
2.      Berpikir Positif Terhadap Diri Sendiri
Setiap manusia, dilahirkan sebagai pribadi yang unik. Karena bagaimanapun wajah dan sifat kita mirip dengan orang lain. Tapi, yang jelas ada saja perbedaan antara keduanya. Sifat dan pribadi unik itu, harus kita jaga. Itu adalah potensi positif, modal dasar untuk mencapai keleluasaan langkah kita dalam menjalani kehidupan ini. Bagaimana orang lain akan menjunjung kita, kalau diri kita sendiri meremehkan dan tidak ‘mengangkatnya’.
Selain itu, kita juga harus yakin bahwa kita dilahirkan ke dunia ini sebagai sang juara, the best. Fakta membuktikan, dari berjuta-juta sel sperma yang disemprotkan Bapak kita, tetapi ternyata yang mampu menembus dinding telur Ibu kita dan dibuahi, hanya satu. Itulah kita, “sang juara”. Hal ini, kalau kita sadari akan menjadi sebuah motivasi luar biasa dalam menjalani hidup ini.
3.      Berpikir Positif Pada Orang Lain
Orang lain ialah manusia biasa yang sama dengan kita. Mereka mempunyai kesalahan dan kekhilafan. Yang tentu hati nurani mereka sendiri juga tidak menginginkannya. Kita harus dapat belajar dari sisi positiforang lain dan menerima sisi negatifnya sebagai pelajaran bagi kita.
4.      Berpikir Positif Pada Waktu
Setiap manusia diberi waktu yang sama, dimana pun dia berada. Waktu tidak akan kembali dan tidak akan protes kita gunakan untuk apa saja. Namun, setiap detik dalam hidup kita akan diminta pertanggungjawabannya kelak nanti. Bagi mereka yang biasa mengisi waktunya dengan amal-amalan saleh atau kebaikan dan berada dalam keimanan, maka akan memperoleh kehidupan yang lebih baik.
Untuk memaksimalkan potensi optimisme yang ada pada diri seseorang, kuncinya adalah diri kita perlu dibangun dengan kebiasaan positif setiap saat.  Dan kita berdoa, agar Sang Penguasa diri ini memberi kemampuan kepada kita untuk membangun pribadi yang tangguh dan pantang menyerah.

D.    Cara menumbuhkan sifat optimis

1.      Bertawa kepada Allah setelah melakukan ikhtiar.
Setelah kita berusaha dengan semaksimal mungkin, maka kemudian kita harus bertaqwa kepada Allah SWT karena berusaha tanpa berdoa kepada Allah SWT sebagai Maha Pencipta merupakan sebuah tindakan yang sombong. Namun apabila kita berdoa namun tidak berusaha maka hal tersebut sama saja bohong karena tidak ada usaha sedikitpun dari kita. Jadi setelah kita berusaha dengan sungguh-sunggu maka waktunya adalah bertaqwa dan menyerahkan semua hasil dari usaha kita kepada Allah SWT disertai dengan sifat optimis sebagi penguatnya.
2.      Meyakinkan  diri kita bahwa Allah SWT akan selalu menolong dan memberi jalan keluar.
Sebagai seorang muslim kita harus yakin kepada Allah SWT bahwa Allah akan menolong kita dan memberkan kita jalan keluar disetiap permasalahan yang kita hadapi. Karena janji Allah bahwa “Allah tidak akan menguji suatu kaum melebihi batas kemampuannya”. Jadi sebagai  seorang muslim kita harus selalu bersikap optimis apabila kita sedang ditimpa musibah. Kita harus yakin bahwa musibah itu pasti dapat kita lalui karena Allah menolong kita dan memberikan jalan kepada kita sesuai dengan janji-Nya
3.      Menemukan hal-hal positif dari pengalaman kita di masa lalu.
“Pengalaman adalah guru yang terbaik” itu adalah ungkapan pepatah yang sering kita dengar. Dari pepatah tersebut kita dapat mengambil hikmahnya bahwa dalam setiap pengalaman kita akan mendapatkan hal-hal yang positif dan negatif. Setelah kita mengetahui hal positif dan negatif tersebut kemudian kita harus dapat menarik kesimpulan dengan menjadikan hal yang baik sebagai uswatun hasanah dan yang negatif sebagai pelajaran.
4.      Mengubah pandangan diri kita terhadap kegagalan.
“Kegagalan adalah kunci keberhasilan” atau “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”. Kedua ungkapan tersebut menggambarkan bahwa kita tidak boleh meratapi kegagalan, namun kita harus mengubah pandangan kita tentang kegagalan yaitu bahwa kita tidak boleh hanya meratapi kegagalan itu saja namun juga harus mengambil pelajaran dari kegagalan tersebut dan kita dapat menjadikannya pengalaman dan sebagai motivasi bagi kita untuk meraih kesuksesan yang tertunda tersebut. Serta optimis dari dalam diri kita sendiri untuk mengubah kegagalan tersebut menjadi sebuah keberhasilan.


BAB III
KESIMPULAN
Optimistis merupakan keyakinan diri dan salah satu sifat baik yang dianjurkan dalam Islam. Dengan sikap optimistis, seseorang akan bersemangat dalam menjalani kehidupan, baik demi kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat kelak.
Pengaruh dari sifat optimisme bagi kehidupan manusia antara lain adalah
·         dapat menumbuhkan cinta akan kebaikan di dalam diri manusia dan memunculkan perkembangan baru atau trobosan-trobosan baru dalam pandangannya tentang kehidupan.
·         mampu mengurangi sejumlah permaslahan dalam kehidupan manusia.
·         akan tumbuh kepercayaan di antara anggota masyarakat yang akan memulihkan dan memajukan umat dan bangsa yang sudah krisis akan kepercayaan dan moral.
Setelah mampu bersikap optimis, kemudian membiasakan berpikir secara positif dan percaya diri. Berpikir positif tidak hanya kepada Allah SWT tetapi juga kepada diri sendiri, orang lain, dan waktu.
Cara menumbuhkan sifat optimis adalah dengan bertakwa kwpada ALLAH SWT, meyakinkan kepada diri kita bahwa ALLAH SWT akan selalu menolong dan memberi jalan keluar kepada kita pada setiap permasalahan, menemukan hal positif dalam masa lalu kita, dan mengubah pandangan kita terhadap kegagalan.


DAFTAR PUSTAKA
M. Munandar, Sulaeman. 1998. Ilmu Budaya Dasar Suatu pengantar. Bandung: PT.Refika Aditama.
Widagdo, Joko. 1999. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
http://www.miqra.blogspot.com

PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM



A.    Hubungan Pendidikan dengan Filsafat
Berbicara tentang sejarah timbulnya filsafat sangat terkait dan bersamaan dengan pembicaraan manusia, karena sesungguhnya usia filsafat sama tuanya dengan usia manusia.[1] Karena pada dasanya manusia merupakan jenis makhluk yang berfilsafat sesuai dengan potensi rasio (akal) yang dimilikinya. Selain itu, manusia harus memiliki pendidikan karena pendidikan merupakan sebuah proes pembelajaran bagi seseorang dan dari sanalah terdapat perbedaan antara manusia dengan makhluk-makhluk lainnya. Oleh karena itu manusia harus mempunyai potensi mendidik dan di didik.
Dengan akal manusia dapat berpikir dan memikirkan diri dan lingkungannya, dan ketika itulah proses berfilsafat bermula. Proses itu akan berhenti manakala manusia telah memiliki pengetahuan tentang apa yang dia pikirkan dengan lahirnya ilmu. Hal ini sesuai dengan fungsi filsafat sebagai alat analisis yang digunakan manusia dalam mengamati gejala dan kenyataan.
Beberapa ahli Beerling dan Plato mengatakan bahwa filsafat timbul karena ketakjuban menyaksikan keindahan dan kerahasian alam semesta dan kemudian menimbulkan pertanyaan dan keingintahuan. Pertanyaan itu pun membutuhkan jawaban dan bila pemikir menemukan jawaban, jawaban itu dipertanyakan lagi karena ia selalu sangsi pada kebenaran yang diungkapkan.[2]
Sedangkan secara harfiyah, filsafat berarti “Cinta kepada ilmu”. Filsafat berasal dari kata “Philo” yang berarti “cinta” dan “Sophos” berarti “ilmu/hikmah”. Secara historis, filsafat berarti menjadi induk segala ilmu pengetahuan yang berkembang sejak zaman Yunani Kuno sampai zaman modern sekarang.[3]
Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani “paedagogic” yang akar katanya “pais” yang berarti anak dan “again” yang artinya membimbing. Jadi, “paedagogic” berarti membimbing yang diberikan kepada anak. Dalam bahasa Inggris pendidikan diterjemahkan menjadi “Education”. Education berasal dari bahasa Yunani “educare” yang berarti membawa keluar yang tersimpan dalam jiwa anak, untuk dituntun agar tumbuh dan berkembang.
Soeganda Poerbakawatja dalam “Ensiklopedi Pendidikan” menguraikan pengertian pendidikan dalam artinya yang luas, bahwa semua perbuatan dan usaha dari generasi tua untuk mengalihkan pengetahuannya, pengalamannya, kecakapannya serta keterampilannya (orang menamakan hal ini dengan “mengalihkan” kebudayaan) kepada generasi muda, sebagai usaha menyiapkannya agar dapat memenuhi fungsi hidupnya baik jasmani maupun rohani. Dapat juga dikatakan bahwa pendidikan itu adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si anak ke kedewasaan yang selalu diartikan maupun memikul tanggung jawab moril dari segala perbuatannya.[4]
Sedangkan, filsafat pendidikan memiliki banyak pengertian dari beberapa ahli, antara lain:
  1. John Dewey memandang pendidikan sebagai suatu proses pembentukan kemampuan dasar yang fundamental, baik menyangkut daya piker maupun daya perasaan, menuju ke arah tabiat manusia dan manusia biasa, maka filsafat juga diartikan sebagai teori umum pendidikan. John Dewey memandang bahwa filsafat memiliki hubungan dengan pendidikan, karena filsafat memiliki tugas yang sama dengan pendidikan yaitu sama-sama memajukan kehidupan manusia. Kalau ahli filsafat lebih memperhatikan tugas yang berkaitan dengan startegi pembentukan manusia, sedangkan ahli pendidikan bertugas untuk lebih memperhatikan taktik (cara) agar strategi itu menjadi terwujud dalam kehidupan sehari-hari melalui proses kependidikan.
  2. Thomson, mengartikan filsafat melihat seluruh masalah tanpa ada batas atau implikasinya. Filsafat dipandang sebagai suatu bentuk pemikiran yang konsekuen tanpa kenal kompromi tentang hal-hal yang harus diungkapkansecara menyeluruh dan bulat.
Para ahli juga ada mengemukakan beberapa pendapat tentang pengertian pendidikan Islam adalah antara lain sebagai berikut:
  1. Menurut Prof. Dr. Omar Muhammad Al-Toumy al-Syaebani, mengartikan bahwa usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses pendidikan.
  2. Hasil Rumusan Seminar Pendidikan Islam se-Indonesia tahun 1960, memberikan pengertian pendidikan islam sebagai bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmanimenurut ajaran islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran islam.
Jadi, dari beberapa pernyataan diatas dapat kita simpulkan bahwa filsafat sangat erat hubungannya dengan pendidikan. Karena filsafat itu ada berdasarkan pemikiran manusia yang selalu merasa takjub melihat sesuatu serta memiliki rasa ingin tau yang tinggi dan tidak pernah puas. Selain itu, manusia juga membutuhkan pendidikan karena manusia pada saat lahir membawa potensi tetapi potensi tersebut belum terpola. Pendidikan merupakan alat pembeda antara manusia dengan makhluk-makhluk lainnya.
Sedangkan, pendidikan merupakan suatu kegiatan yang universal dalam kehidupan manusia, karena dimanapun dan kapanpun di dunia terdapat pendidikan. Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha manusia untuk memanusiakan manusia itu sendiri, yaitu untuk membudidayakan manusia. Hakikat pendidikan ini tidak akan terlepas dari hakikat manusia, sebab urusan utama pendidikan adalah manusia.
Dari penjelasan diatas, kita bisa mengetahui bagaimana hubungan atau kaitan filsafat dengan dunia pendidikan. Filsafat dan pendidikan ini memiliki kaitan dan hubungan yang sangat erat sekali, mereka memiliki objek yang sama yaitu manusia.
  1. B.  Kompetensi Guru
Secara Etimologi, istilah kompetensi berasal dari bahasa Inggris yaitu competence. Kata competence diartikan dengan kecakapan, kemampuan, dan wewenang. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata kompetensi berarti sebagai wewenang atau kekuasaan untuk menentukan dan memutuskan sesuatu.
Selain itu, secara Etimologi kompetensi juga berarti kemampuan atau kecakapan yang dimiliki oleh seorang guru sehingga mempunyai wewenang untuk melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.[5]
Secara Terminologi, istilah kompetensi diartikan berbeda-beda oleh para ahli:
  1. Zakiah Daradjat mengartikan kompetensi sebagai kewenangan atau kecakapan untuk menentukan atau memutuskan sesuatu.
  2. Robert Houston mengartikan kompetensi dengan kemampuan yang memadai untuk melaksanakan tugas yang disertai denagn kemampuan, keterampilan dan kecakapan yang dituntut untuk itu.
  3. Nana Sudjana mengartikan kompetensi merupakan kemampuan dasar yang disyaratkan untuk memangku suatu profesi.
Jadi, berdasakan dari pendapat para ahli dan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa kompetensi merupakan suatu kemampuan yang dimilikioleh seseorang baik berupa ilmu pengetahuan, keterampilan maupun kecakapan yang merupakan syarat untuk dapat melakukan suatu profesi atau pekerjaan.
Guru sebagai pendidik merupakan pekerjaan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus untuk melakukannya. Pada dasarnya tugas guru sebagai pendidik meliputi mendidik yang berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup, mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa.
Dalam Undang-Undang RI No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen terdapat 4 kompetensi yang harus dimiliki seorang guru, yaitu sebagai berikut:[6]
  1. Kompetensi Personal (Kepribadian)
Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa dan berwibawa, menjadi teladan bagi mahasiswa dan berakhlak mulia. Bagi seorang guru kompetensikepribadian ini tidak bisa dinafikkan keberadaannya karena kepribadian dapat menentukan apakan guru menjadi pendidik atau Pembina yang baik atau malah menjadi perusak peserta didiknya dan menghancurkan masa depan peserta didiknya yang merupakan generasi penerus hari depan, baik yang masih di sekolah dasar maupun yang sedang mengalami kegoncangan jiwa (remaja).
Menurut Imam Al-Gazali yang dikutip oleh M. Athiyah al-Abrasyi, bahwa guru sebagai pendidik agar memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
  1. Seorang guru harus menaruh rasa kasih sayang terhadap siswanya dan memperlakukan mereka seperti perlakuan mereka terhadap anaknya sendiri.
  2. Tidak mengharapkan balas jasa ataupun ucapan terima kasih, tetapi mencari keridhaan Allah.
  3. Mencegah siswa dari berakhlak yang tidak baik dengan cara yang lemah lembut.
  4. Memperhatikan tingkat pemikiran mereka dan berbicara sesuai dengan kemampuan mereka.
  5. Jangan timbulkan rasa benci pada diri siswa terhadap satu cabang ilmu, tetapi bukakan jalan bagi mereka untuk cabang ilmu tersebut.
  6. Seorang guru harus mengamalkan ilmunya dan jangan berlainan kata dengan perbuatan.
  1. Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik atau siswa yang meliputi pemahaman terhadap siswa, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan siswa untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
Kompetensi pedagogik memuat pemahaman akan sifat, ciri anak didik atau siswa dan perkembangannya. Dengan demikian, kompetensi pedagogik adalah kemampuan seorang guru dibidang pengetahuan yang diajarkannya dan ahli dalam tugas mendidik.
  1. Kompetensi Profesional
Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam standar pendidikan nasional. Seorang guru dapat dinilai berkompetensi secara professional apabila:
  1. Guru mampu mengembangkan tanggungjawab dengan sebaik-baiknya
  2. Guru mampu melaksanakan peran-perannya secara berhasil
  3. Guru tersebut mampu bekerja dalam usaha mencapai tujuan Pendidikan Nasional
  4. Guru mampu melaksanakan peranannya dalam proses pembelajaran dikelas
Dalam kompetensi profesional yang harus dimiliki seorang guru profesional adalah sebagai berikut:
  1. Menyusun Program Pengajaran (membuat perencanaan program belajar mengajar)
Perencanaan pengajaran merupakan suatu disiplin yang sangat berkaitan sekali dengan upaya pengembangan pengetahuan tentang bermacam metode pengajaran dan mengkombinasikan metode-metode tersebut secara optimal pada situasi yang tepat kapan seharusnya metode-metode tersebut digunakan.
  1. Melaksanakan Program Pembelajaran
Ada sepuluh kompetensi dasar yang berhubungan dengan proses pembelajaran:[7]
  1. Menguasai bahan yang akan diajarkan
  2. Mengelola program belajar mengajar
  3. Mengelola kelas
Mengelola kelas adalah satu tugas guru yang tidak pernah ditinggalkan.pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak didik sehingga tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien.[8]
  1. Menggunakan media atau sumber belajar
  2. Menguasai landasan-landasan kependidikan
  3. Mengelola interaksi belajar mengajar
  4. Menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajaran
  5. Mengenal fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan disekolah
  6. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah
  7. Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran.
  1. Melaksanakan Evaluasi Pembelajaran
Melalui kegiatan ini seorang pendidik akan mengetahui, apakah kegiatan yang dilakukan sudah mencapai sasaran atau tidak. Ini merupakan tahapan yang sangat penting sekali untuk dilakukan.
  1. Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial adalah kemampuan guru dalam membina dan mengembangkan interaksi sosial, baik sebagai tenaga profesional maupun sebagai warga masyarakat. Hal-hal yang harus dilakukan pendidikan agama islam dalam kompetensi sosial adalah:
-          Berinteraksi dengan sejawat untuk meningkatkan kemampuan profesional
-          Berinteraksi dengan masyarakat untuk pelaksanaan misi masyarakat.
  1. C.  Interaksi Guru dan Murid
Sebelum kita membahas pada interaksi guru dan murid, sebelumnya kita harus memahami dulu kondisi peserta didik. Peserta didik maksudnya disini adalah orang yang sedang berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik maupun psikis, pertumbuhan dan perkembangan merupakan ciri seorang peserta didik yang perlu bimbingan dari seorang pendidik. Sehingga dibutuhkan binaan dan bimbingan untuk mengatualisasikannya agar ia dapat menjadi susila yang cakap.
Dalam perspektif Undang-Undang sistem pendidikan nasional no.20 tahun 2003 pasal 1 ayat 4, “Peserta didik diartikan sebagai anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur jenjang dan jenis pendidikan tertentu”. Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa peserta didik itu memiliki sejumlah karakteristik, antara lain:
  1. Peserta didik adalah individu yang sedang berkembang. Artinya peserta didik tengah mengalami perubahan-perubahan dalam dirinya secara wajar, baik yang ditujukan kepada diri sendiri maupun yang diarahinya pada penyesuaian dengan lingkungannya.
  2. Peserta didik adalah individu yang membutuhkan bimbingan individual dan perlakuan manusiawi
  3. Peserta didik adalah individu yang memiliki kemampuan untuk mandiri
Berdasarkan penjelasan diatas kita dapat mengetahui bahwasannya peserta didik memiliki banyak karakter, sedangkan ilmu filsafat mempelajari tentang ilmu jiwa. Jadi, disini kita dapat mengetahui bahawasannya pendidikan juga memiliki kaitan yang sangat erat dengan dengan filsafat. Karena jika seorang pendidik memiliki pengetahuan tentang ilmu jiwa maka pendidik akan bisa mengetahui kurang lebihnya bagaimana karakter seorang peserta didik tersebut, serta bagaimana kondisi dan jiwa anak tersebut. Pendidik juga bisa melihat apakah anak tersebut memiliki masalah atau gangguan lainnya. Selain itu, pendidik juga dapat melihat bakat yang ada para diri individu masing-masing peserta didik.
Selain karakter peserta didik juga memiliki kebutuhan dan ini juga merupakan jalan untuk melakukan interaksi antara pendidik dengan peserta didik atau yang sering disebut guru dengan muridnya. Kebutuhan tersebut terbagi atas:
  1. Kebutuhan Jasmani
Kebutuhan jasmani merupakan kebutuhan dasar setiap individu manusia yang tidak dipengaruhi oleh lingkungan dan pendidikan. Kebutuhan jasmani murid yang harus mendapatkan perhatian dari guru di sekolah adalah: makan, minum, pakaian, oksigen, istirahat, kesehatan jasmani, gerak-gerak jasmani, serta terhindar dari berbagai ancaman. Apabila kebutuhan jasmani ini tidak terpenuhi, selain mempengaruhi pembentukan pribadi dan perkembangan psikososial peserta didik, juga akan sangat berpengaruh terhadap proses belajar mengajar di sekolah. Untuk memenuhi kebutuhan jasmani peserta didik, sekolah melakukan upaya-upaya seperti:
ü  Memberikan pemahaman terhadap peserta didiktentang pentingnya pola hidup sehat dan teratur
ü  Menanamkan kesadaran kepada peserta didik untuk mengosumsi makanan-makanan yang mengandung gizi dan vitamin tinggi
ü  Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk beristirahat
ü  Member pendidikan jasmani dan latihan-latihan fisik seperti olahraga
ü  Menyediakan berbagai sarana di lingkungan sekolah yang memungkinkan peserta didik dapat bergerak bebas, bermain, berolahraga, dsb
ü  Merancang bangunan sekolah sedemikian rupa dengan memperhatikan percahayaan, serkulasi udara, suhu dsb. Yang memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan nyaman
ü  Mengatur tempat duduk peserta didik didalam kelas sesuai dengan kondisi fisik mereka masisng-masing.
  1. Kebutuhan Pribadi
Anak didik memiliki dorongan untuk memuaskan keinginan untuk mengetahui sesuatu, untuk menyatakan pikiran dan perasaannya dengan jalan bahasa, pekerjaan, lukisan, seni, suara, dll.
  1. Kebutuhan Sosial
Manusia adalah makhluk yang tidak lepas dari masyarakat, setiap masyarakat harus hidup dalam hubungan yang erat dengan orang lainuntuk mencapai kebahagiaannya, membimbing anak agar ia menjadi makhluk sosial yaitu suatu fungsi sekolah yang sangat penting.
  1. Kebutuhan Psikologi
  2. Kebutuhan akan rasa aman
  3. Kebutuhan akan kasih sayang
  4. Kebutuhan akan penghargaan
  5. Kebutuhan akan rasa bebas
  6. Kebutuhan akan rasa sukses
  7. Kebutuhan akan agama
Selain itu peserta didik juga memiliki sifat-sifat yang dapat oleh seorang pendidik melalui ilmu filsafat yang terdapat didalam diri pendidik. Seorang pendidik yang baik atau yang sering disebut dalam dunia pendidikan seorang pendidik yang profesional adalah pendidik yang bisa mengerti dan memehami bagaimana seorang pendidik. Seorang pendidik itu mengerti bgaimana sifat, karakter, kebutuhan serta juga harus melakukan pendekatan-pendekatan.
Sifat-sifat peserta didik adalah sebagai berikut:
-          Kelemahan dan ketidak berdayaan
Kelemahan adalah jasmani dan rohaninya, sedangkan ketidak berdayaan tersebut dikarenakan kemampuan dan potensi dirinya belum berkembang.
-          Berkemampuan untuk berkembang
-          Ingin menjadi diri sendiri
Selain adanya hak, seorang peserta didik juga ada berbagai sifat yang mencerminkan sikap seorang yang terdidik yaitu berbudi dan berakhlak mulia, sebagai manusia yang berpendidikan, baik dilingkungan sekolah maupun masyarakat.
Disini peserta didik harus bersifat sebagai berikut:
-          Mematuhi semua peraturan yang berlaku
-          Menghormati tenaga pendidikan
-          Ikut memelihara sarana dan pra sarana serta kebersihan, ketertiban dan keamanan satuan kependidikan yang bersangkutan.
Karena peserta didik memiliki kebutuhan dan sifat yang berbeda-beda, maka seorang pendidik juga harus memiliki pemahaman mengenai bagaimana cara pendekatan dan metode untuk menghadapi peserta didik dalam proses belajar mengajar. Dalam proses pendekatan ini kita juga bisa melakukan interaksi dengan peserta didik.
Yang dimaksud dengan pendekatan pembelajaran adalah suatu bentuk titik tolak atau sudut pandang kita dalam proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Di dalamnya terjadi proses mewadahi, menginspirasi, menguatkan, melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu.
Dilihat dari pendekatannya, dalam pembelajaran pendekatan terhadap peserta didik terbagi menjadi 2, yaitu:
  1. Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach)
  2. Pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach)
Selain itu ada beberapa pendekatan yang sering digunakan dalam pendidikan:
  1. Pendekatan Tujuan Pembelajaran
Pendekatan ini berorientasi pada tujuan akhir pembelajaran yang akan dicapai, dengan pendekatan ini seorang pendidik akan melakukan interaksi yang dirancang bertujuan untuk keberhasilan suatu tujuan.
  1. Pendekatan Konsep
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konsep berarti peserta didik dibimbing memahami suatu bahasan melalui pemahaman konsep yang terkandung didalamnya.
  1. Pendekatan Lingkungan
Penggunaan pendekatan ini berarti mengaitkan lingkungan dalam suatu proses belajar mengajar. Lingkungan dijadikan sebagai salah satu sumber dalam belajar.
  1. Pendekatan Inkuiri
Penggunaan ikatan inkuiri adalah mengajarkan peserta didik untuk mengendalikan sesuatu yang dihadapinyaketika berhubungan dengan dunia fisik.
  1. Pendekatan Proses
Penggunaan pendekatan proses bertujuan untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam keterampilan proses.
  1. Pendekatan Interaktif
Pendekatan ini merupakan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan dan kemudian melakukan penyelidikan yang berkaitan dengan pertanyaan yang mereka ajukan.
  1. Pendekatan Pemecahan Masalah
Pendekatan ini berangkat dari masalah yang dipecahkan melalui pratikum atau pengamatan. Pendekatan ini memiliki dua versi, versi yang pertama yaitu siswa dapat menerima saran tentang prosedur yang digunakan, cara mengumpulkan data, menyusun data, dan menyusun serangkaian pertanyaan yang mengarah ke pemecahan masalah. Sedangkan, versi yang kedua adalah hanya masalah yang dimunculkan, siswa yang merancang pemecahannya sendiri.
  1. Pendekatan Terpadu
Pendekatan ini intinya yaitu memadukan dua unsur atau lebih dalam suatu kegiatan pembelajaran.
Dengan memperhatikan peserta didik tersebut dengan baik, maka tanpa sengaja telah terjadi interaksi antara peserta didik dengan pendidik yang tanpa disadari. Interaksi ini akan selalu terjalin baik apabila seorang pendidik memperhatikan bagaimana perkembangan pribadi jiwa peserta didiknya. Selain itu, semua hal diatas juga sangat berhubungan dengan pendekatan yang harus dilakukan seorang pendidik, karena dengan jalan pendekatan ini seorang pendidik bisa menilai serta memahami dan mengetahui bagaimana kondisi dan keadaan peserta didik tersebut. Begitupun sebaliknya, semua tindakan diatas juga sangat berhubungan dengan ilmu filsafat karena pada tindakan ini kita memerlukan penilaian tentang ilmu jiwa seorang peserta didik. Dan ilmu yang membahas atau mengkaji tentang ilmu jiwa adalah ilmu filsafat, maka sebab itu ilmu filsafat sangat memiliki peranan dan hubungan yang sangt erat sekali dengan ilmu pendidikan. Karena seorang pendidik harus selalu mengetahui atau memantau bagaimana kondisi perkembangan peserta didiknya.
Intinya disini, ilmu filsafat sangat diperlukan sekali oleh pendidik karena ilmu filsafat merupakan ilmu jiwa dan sedangkan pendidik harus memperhatikan perkembangan peserta didiknya. Dan penilaian itu akan dilakukannya dengan menggunakan pengkajian ilmu filsafat. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal pendidik terlebih dahulu harus memperhatikan kebutuhan dan sifat-sifat peserta didik dan semua itu dengan jalan melakukan pendekatan-pendekatan. Dan apabila, semua langkah-langkah tersebut telah dilakukan oleh pendidik, maka dengan mudah pendidik akan mengetahui bagaimana keadaan peserta didiknya tersebut, baik dari fisik maupun non fisik. Seorang pendidik akan mengetahui jika seprang peserta didik itu memiliki masalah atau gangguan lainnya dan maupun kesulitan-kesulitan lainnya. Dan jika seorang pendidik yang profesional telah menemukan hal tersebut, maka pendidik tersebut akan melakukan tindakan untuk membantu dan membentuk peserta didiknya tersebut menjadi lebih baik dan keluar dari masalahnya tersebut. Disini juga terjalin salah satu interaksi yang sangat baik selain dalam proses belajar mengajar.
  1. D.    GURU SEBAGAI PENDIDIK
Menurut Prof. Dr. Zakia Drajat dkk (1992:41) tidak sembarangan orang yang dapat menjadi guru, tetapi harus memenuhi beberapa persyaratan antara lain:
  1. Taqwa kepada Allah SWT
  2. Berilmu
  3. Sehat jasmani
  4. Berkelakuan baik
Selain itu seorang guru juga memiliki sifat-sifat untuk menjadi seorang pendidik yang baik.
-          Seorang guru hendaknya bersifat adil
-          Guru hendaknya percaya dan menyayangi murid-muridnya
-          Guru hendaklah memiliki sifat sabardan rela berkorban
-          Guru hendaklah mempunyai kewibawaan
-          Guru hendaklah periang dan gembira
-          Guru mempunyai sifat ramah tamah terhadap sesama guru
-          Guru hendaklah disenangi dan menyenangkan masyarakat
-          Guru harus menguasai mata pelajarannya
-          Guru harus menyukai mata pelajaran yang diajarkannya
-          Guru hendaklah mempunyai pengetahuan yang luas
Menurut Prof. Dr. Asnawir, seorang guru sebagai pendidik memiliki tugas dan tanggung jawab, antara lain sebagai berikut:
  1. Tugas dan tanggung jawab dengan anak didik berupa mengarahkan, membimbing dan membenahi kekurangankekurangan peserta didik dan mendidiknya menjadi manusia dewasa, sempurna, sehat jasmani dan rohani.
  2. Tugas dan bertanggung jawab dengan guru lain, seperti menjalin hubungan baik dan bekerja sama dalam mengarahkan dan mendidik siswa
  3. Tugas dan tanggung jawab dengan atasan, hal ini bertujuan agar tidak terjadinya hubungan yang tidak menyenangkan
  4. Tugas dan tanggung jawab dengan orang tua murid, atau dengan masyarakat
Menurut Al-Ghazali dalam buku Muhaimin tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, mensucikan hati manusia untuk bertaqarrub kepada Allah SWT.
Beberapa tanggung jawab guru sebagai pendidik, antara lain:
  • Seorang guru harus menuntun peserta didik
  • Turut serta merancang kurikulum sekolah
  • Melakukan pembinaan terhadap diri siswa (kepribadian, watak, jasmaniah)
  • Memberikan bimbingan pada peserta didik
  • Melakukan diagnosis atas kesulitan belajar dan menjadikan penilaian atas kemauan belajar
  • Menyelenggarakan penelitian
  • Mengenal masyarakat dan ikut serta aktif
  • Menghayati dan mengamalkan Pancasila
  • Turut serta membantu terciptanya kesatuan dan persatuan bangsa dan perdamaian dunia
  • Turut menyukseskan pembangunan
  • Tanggung jawab meningkatkan peranan profesional guru
Seorang pendidik yang baik juga harus memiliki atau mempunyai sifat yang baik agar bisa menjadi panduan atau contoh yang baik untuk peserta didiknya. Karena peserta didik akan mencontoh tindakan gurunya, apa lagi bila kita mengajar di sekolah dasar atau tingkat bawah yang mana anak-anak pada masa ini dalam masa pembentukan dan pengenalan lingkungan. Seperti ada ungkapan yang mengatakan “guru kencing berdiri, anak kencing berlari”, maksud ungkapan tersebut adalah bahwasannya dalam ungkapan tersebut menggambarkan bagaimana seorang anak atau peserta didik akan mendapatkan dampak yang sangat jauh buruknya. Seorang peserta didik akan memiliki tingkah laku atau tingkat kenakalan yang sangat tinggi atau sangat buruk sekali. Bagi anak yang dalam masa pertumbuhan atau yang tingkat dasar, mereka akan menganggap seorang guru itu idola mereka jadi apapun perbuatan guru tersebut akan menjadi pedoman atau acuan untuk kedepannya maka kita harus memiliki sifat yang baik juga sebagai pendidik.
Disini kita juga bisa menggunakan kajian ilmu filsafat, selain kita memberikan contoh yang baik kepada peserta didik sebelumnya pendidik terlebih dahulu harus mengetahui bagaimana pribadi seorang peserta didik tersebut. Karena pribadi setiap orang itu berbeda-beda, selain itu setiap orang itu juga memiliki masalah dan latar belakang yang berbeda. Jadi seorang guru tersebut harus menilai bagaimana pribadi setiap peserta didik dan kemudian melakukan pendekatan-pendekatan agar bisa menjadi panutan yang baik bagi peserta didik.
Jadi intinya dari semua uraian penjelasan diatas, kita bisa menyimpulkan bahwasannya ilmu kajian filsafat sangat berkaitan sekali dengan dunia pendidikan. Karena memiliki objek pembentukan yang sama, yaitu manusia. Selain itu dalam dunia pendidikan kajian ilmu filsafat sangat dibutuhkan sekali oleh pendidik untuk mengetahui, memahami dan mempelajari tentang jiwa, karakter serta pribadi seorang peserta didik.
Apabila seorang pendidik telah bisa melakukan tindakan penilaian tersebut maka pendidik tersebut akan mengetahui bagaimana yang harus dilakukan peserta didik tersebut, agar peserta didik tersebut bisa keluar dari masalah-masalahnya. Seorang pendidik juga harus bisa menjadi panutan bagi peserta didiknya, agar membentuk atau menghasikan peserta didik yang baik yang bisa menghadapi perkembangan ke depannya.


[1] Dr. Hasan Bakti Nasution, M.A. Filsafat Umum,(Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001), h. 6
[2] Prof. Dr. Ahmad Tafsir. Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, (Bandung:Remaja Rosdakarya Offset, 2000) h.14
[3] Prof. H. M. Arifin, M.Ed. Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Bina Aksara,1987), h. 1
[4] Dra. Zuhairini, dkk. Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), h. 120
[5] Sasmi Nelwati, Dasar-dasar Kependidikan, (Padang: IAIN IB Padang, 2006), Hal. 86-87
[6] Ibid. Hal. 117
[7] Sadirman A.M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakart: PT. RajaGrafindo Persada, 2010), Hal. 164-179
[8] Syaiful Bahri Djamarah, dkk, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), Hal. 195-196

Ley's. Powered by Blogger.